Tapak yang Terlupakan

19 May 2010

Jalur Kuda - Teh

Jalur Kuda - Teh

Rabu, 19 Mei 2010
Kemudian, dengan sekali ayunan kapak, saya menebas bambu yang menghalangi. Di depan saya membentang jalan berlapis batu, lebarnya hanya satu meter lebih, berkelok masuk ke hutan, licin berlumut, dan nyaris tertutup semak. Beberapa batu tampak berlubang-lubang dan berisi air, bekas tongkat berujung besi yang digunakan ratusan ribu kuli angkut yang melewati jalan ini selama satu milenium.

Sisa jalan batu itu hanya sepanjang 15 meter, lalu menanjak dengan tangga rusak, kemudian hilang lagi, tersapu derasnya hujan selama bertahun-tahun. Saya terus maju, masuk ke jalur sempit yang dindingnya sangat curam dan licin sehingga harus berpegangan ke pohon agar tidak jatuh ke sungai berbatu jauh di bawah. Saya berharap, pada suatu saat, dapat melewati Maan Shan, celah gunung tinggi antara Yaan dan Kangding.

Malam itu saya berkemah jauh di atas sungai. Keesokan paginya saya menembus 500 meter lagi sebelum rimba yang tak dapat dilalui membuat saya berhenti, selamanya. Saya terpaksa mengakui bahwa, di sini setidaknya, Jalur Kuda-Teh telah lenyap.

Pada kenyataannya, sebagian besar Jalur Kuda-Teh yang asli sudah hilang. China yang bergegas menuju modernitas mengubur masa lalunya secepat mungkin. Sebelum jalur itu dibuldoser atau dilenyapkan, saya datang untuk menjelajahi sisa-sisa rute yang dulu terkenal tapi sekarang nyaris terlupakan itu.

Lintasan kuno itu dulu membentang hampir 2.250 kilometer melintasi bagian tengah Cathay, dari Yaan, di daerah perkebunan teh Provinsi Sichuan, hingga Lhasa, ibu kota Tibet yang hampir 3.650 meter tingginya. Jalur yang merupakan salah satu jalur tertinggi dan terberat di Asia itu mulai menanjak dari lembah subur di China, melintasi Dataran Tinggi Tibet yang didera angin dan salju. Lantas menyeberangi Sungai Yangtze, Mekong, dan Sungai Salween yang membekukan. Setelah itu, jalur ini masuk ke Pegunungan Nyainqentanglha yang misterius, menanjak melalui empat celah-gunung setinggi 5.000 meter yang mematikan, sebelum akhirnya turun ke Lhasa, kota suci Tibet.

Badai salju sering mengubur bagian barat jalur itu, sementara hujan lebat menghancurkan bagian timurnya. Ancaman bandit selalu menghantui. Namun, jalan ini tetap ramai digunakan orang selama berabad-abad, meskipun masyarakat di kedua ujungnya kadang saling membenci (sampai sekarang). Keinginan berdaganglah yang melahirkan jalur ini, bukan hal romantis seperti pertukaran gagasan, etika, budaya, dan kreativitas yang dinisbahkan pada Jalur Sutra yang legendaris di utara. China punya sesuatu yang diinginkan Tibet: teh. Tibet memiliki sesuatu yang sangat dibutuhkan China: kuda.
Sumber : National Geographic


TAGS


-

Author

Follow Me