Sidat Si Pengelana

8 Sep 2010

Selama sebagian besar hidupku, aku tak punya tidak banyak untuk memperhatikan sidat. Kemudian, enam tahun silam, ketika sedang menyusuri jalan raya Route 17 di Pegunungan Catskills, New York, pada suatu hari bulan November yang dingin, aku memutuskan untuk mengikuti papan nama yang mengatakan, “Hidangan Delaware, Rumah Asap.” Setelah melewati tambang Cobleskill, menyusuri jalan tanah berliku-liku melalui hutan pohon hemlock (Tsuga canadensis) yang rindang, aku pun tiba di sebuah pondok kecil yang dilapisi tar kertas nan hitam, dengan cerobong asap yang keperakan. Pondok itu berada di tebing tinggi yang menghadap ke Cabang Timur Sungai Delaware. Seorang lelaki dengan janggut putih yang meruncing dan rambut diikat ekor kuda (dia mirip boneka kayu) melompat dari balik pintu kayu lapis rumah asap. Namanya Ray Turner.

Setiap musim panas ketika sungai mendangkal, Turneryang suka bicara berbelit-belit, tangguh, dan juga agak misteriusmemperbaiki dan memperkuat dinding batu sebuah bubu berbentuk corong yang menyaring air melalui rak dari kayu yang dirancang untuk menjebak ikan. Dia memerlukan waktu hampir empat bulan untuk menyelesaikan alat itu. Itu adalah bagiand ari persiapannya menyambut perjalanan sidat yang berlangsung hanya dua malam pada bulan September, kira-kira pada malam hari saat bulan baru, ketika sidat yang mulai dewasa berenang menyusuri sungai menuju ke laut. Perjalanan itu sering kali bertepatan dengan banjir yang datang akibat angin kencang selama musim badai, ketika langit hitam pekat dan sungai mengalami pasang tertinggi. Sebagaimana yang diamati oleh Rachel Carson, sidat adalah makhluk pencinta kegelapan.

Kami mendayung kano ke arah hulu dari rumah Turner, menuju bubu tersebut. “Itu Si Botak (Haliaeetus leucocephalus),” katanya sambil menunjuk ke seekor elang botak yang terbang rednah berputar-putar, mengawasi perangkap, siap menyambar ikan sebelum Turner melakukannya. Di lembah yang luas itu, yang mengingatkan kita pada aliran lukisan Sungai Hudson, bubu sangat mengesankan sebagai karya seni lapangan. Turner membicarakannya dalam pengertian metafora. “Ini ibarat sebuah rahim,” katanya, saat kami duduk bertengger di rak. “Yang itu kakinya.” Dia menunjuk ke arah pemecah-air dari batu yang merentang secara diagonal di kedua sisi sungai. “Anda lihat? Bubu itu seperti seorang wanita. Semua kehidupan sungai datang menghampirinya ke situ.

Apabila musim migrasi September itu bagus, Turner bisa menangkap hingga 2.500 ekor sidat. Setiap tahun, sidat betina yang paling besar kulepaskan lagi ke sungai, katanya (dengan asumsi sidat itu memang betina dan berhasil mencapai laut untuk memijah, dia bisa bertelur hingga 30 juta butir). Turner memasak sidat dengan asap panas dan menjualnya kepada tamu yang singgah, juga ke restoran dan pengecer; dari kegiatan itu dia memperoleh penghasilan hingga Rp200 juta setahun. Aku menganggap sidat sebagai protein berkualitas terbaik dalam menukuikan dengan citarasa yang sangat unik, dengan asap pohon apel (Malus domestica), dan madu warna gelap yang dipanen di musim gugur. Semua ikan yang kuasap, trout dan salmon, dipijahkan di kolam pemijahan, kecuali sidat. Sidat adalah binatang liar. Mereka senang mencari makan sendiri.


TAGS Hewan Bahari Habitat


-

Author

Follow Me